Title

Jumat, 04 Desember 2009

Seribu Kupu-kupu

Setiap kali aku
merindu,
muncul ulat di kebun,
berjingkat dengan perut
melintasi daun jambu.

Sebentar juga dia
akan menelannya,
karena pada hijau daun,
mata waktu menitipkan kenangan.

Lama ia
istirah dalam duka,
berkemul dalam
air matanya sendiri.

Setelah duka didiamkan
ia mampu merobek jaring air mata,
menjadi kupu-kupu
dan terbang ke arahmu.

Satu rindu,
satu kupu-kupu,
mengindahkan hidupmu.

Semalam aku merindu,
begitu rindu.
Tetes air mata beribu,
keluar dari mataku,
berjingkat dengan perut,
menuju daun jambu.

Subuh…
tumpas sudah daun jambu
ribuan ulat menggelantung
di tulang-tulang daun yang kurus.

Seribu, rindu,
seribu kupu-kupu,
menderu ke arahmu.

Mereka terbang ke kamarmu,
menelusup
lewat jendela yang kau buka untuk embun,
lewat pintu yang kau buka separuh.

Menempel
pada kaca jendela yang kabur,
pada rekahan dinding,
cat yang terkelupas,
di atas seprei putih
yang kau ganti
setiap pagi.

Seribu rindu,
seribu kupu-kupu
menyesaki duniamu.

Kini kau tahu,
kenapa rindu
menyiksaku selalu.